Info Market CPO
🗓 Update: Kamis, 7 Mei 2026 |18:20 WIB |Volume: 0.5K • 0.2K • 1K DMI • LOCO PARINDU • LOCO LUWU
HARGA CPO (WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15200 (IMT) 15220 (AGM) 15350 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15200 (IMT) 15220 (AGM) 15350 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14782 14455 (MNA) 14600 (PBI) 15000 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
15100 14693 14800 15275 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 1K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • Harga relatif stabil pada transaksi DMI
  • Selisih harga antar bidder sangat tipis
  • Masih terdapat lokasi tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
Ekonomi & Bisnis

BPS: Januari 2026 Deflasi 0,15 Persen, Inflasi Tahunan Tercatat 3,55 Persen

bps: januari 2026 deflasi 0,15 persen, inflasi tahunan tercatat 3,55 persen
Pedagang beraktivitas di pasar tradisional Pasar Senen. (kumparan)

Jakarta, Sinata.id – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Januari 2026 mengalami deflasi sebesar 0,15 persen secara bulanan (month to month/mtm).

Sementara itu, secara tahunan (year on year/yoy), inflasi Indonesia tercatat sebesar 3,55 persen.

Advertisement

Deputi Bidang Statistik Sosial BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa deflasi pada Januari 2026 berbeda dengan kondisi bulan sebelumnya yang masih mencatatkan inflasi.

“Pada Januari 2026 terjadi deflasi sebesar 0,15 persen, sedangkan pada Desember 2025 terjadi inflasi,” ujar Ateng dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Senin (2/2/2026).

Baca juga:BPS Catat Pengangguran dan Kemiskinan Pematangsiantar Turun pada 2025

Kelompok Makanan Jadi Penyumbang Deflasi Terbesar

Deflasi bulanan terutama disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami penurunan harga sebesar 1,03 persen, dengan andil deflasi 0,30 persen. Komoditas utama penyumbang deflasi antara lain cabai merah, cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras.

Baca Juga  BSI Resmi Jadi Persero, Perkuat Peran di Ekonomi Syariah Nasional

Selain itu, komponen harga bergejolak juga mengalami deflasi sebesar 1,96 persen dengan andil 0,33 persen, seiring turunnya harga sejumlah bahan pangan.

Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah tercatat mengalami deflasi 0,32 persen, dengan andil 0,06 persen. Komoditas yang berkontribusi antara lain bensin, tarif angkutan udara, dan tarif angkutan antarkota.

Di sisi lain, inflasi inti pada Januari 2026 tercatat sebesar 0,37 persen, dengan andil inflasi 0,24 persen. Komoditas yang mendorong inflasi inti meliputi emas perhiasan, sewa rumah, sepeda motor, serta nasi dengan lauk.

Baca juga:BPS Pematangsiantar Lakukan Pendataan Triwulanan Seluruh Perguruan Tinggi

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mencatatkan inflasi cukup tinggi, yakni 2,28 persen, yang terutama dipicu oleh kenaikan harga emas sepanjang Januari 2026.

Baca Juga  Pengangguran RI Turun, Tapi 7,24 Juta Orang Masih Menganggur di 2026

Sebaran Inflasi dan Deflasi Daerah

BPS mencatat, dari total 38 provinsi di Indonesia, sebanyak 20 provinsi mengalami deflasi, sementara 18 provinsi mengalami inflasi.

Deflasi terdalam terjadi di Sumatera Barat sebesar 1,15 persen, sedangkan inflasi tertinggi tercatat di Maluku Utara sebesar 1,48 persen.

BPS juga menyoroti perkembangan harga di daerah terdampak bencana, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ketiga provinsi tersebut mengalami deflasi yang dipengaruhi oleh penurunan harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

Baca juga:Sensus Ekonomi 2026 Menjadi Kunci untuk Membaca Arah Ekonomi Nasional

Inflasi Tahunan Didominasi Perumahan dan Energi

Meski secara bulanan terjadi deflasi, BPS mencatat inflasi tahunan Januari 2026 tetap berada di level 3,55 persen. Penyumbang terbesar inflasi tahunan berasal dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, dengan andil 1,72 persen.

Baca Juga  Susi Pudjiastuti Masuk Bank BJB, Dedi Mulyadi Tekankan Integritas Direksi Baru

Komoditas utama pendorong inflasi pada kelompok tersebut meliputi tarif listrik, tarif air minum PAM, sewa rumah, dan bahan bakar rumah tangga.

“Khusus tarif listrik, dorongan inflasi terjadi akibat fenomena low base effect, menyusul adanya diskon tarif listrik pada tahun 2025,” pungkas Ateng. (A02)

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini