Jakarta, Sinata.id – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Januari 2026 mengalami deflasi sebesar 0,15 persen secara bulanan (month to month/mtm).
Sementara itu, secara tahunan (year on year/yoy), inflasi Indonesia tercatat sebesar 3,55 persen.
Deputi Bidang Statistik Sosial BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa deflasi pada Januari 2026 berbeda dengan kondisi bulan sebelumnya yang masih mencatatkan inflasi.
“Pada Januari 2026 terjadi deflasi sebesar 0,15 persen, sedangkan pada Desember 2025 terjadi inflasi,” ujar Ateng dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Senin (2/2/2026).
Baca juga:BPS Catat Pengangguran dan Kemiskinan Pematangsiantar Turun pada 2025
Kelompok Makanan Jadi Penyumbang Deflasi Terbesar
Deflasi bulanan terutama disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami penurunan harga sebesar 1,03 persen, dengan andil deflasi 0,30 persen. Komoditas utama penyumbang deflasi antara lain cabai merah, cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras.
Selain itu, komponen harga bergejolak juga mengalami deflasi sebesar 1,96 persen dengan andil 0,33 persen, seiring turunnya harga sejumlah bahan pangan.
Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah tercatat mengalami deflasi 0,32 persen, dengan andil 0,06 persen. Komoditas yang berkontribusi antara lain bensin, tarif angkutan udara, dan tarif angkutan antarkota.
Di sisi lain, inflasi inti pada Januari 2026 tercatat sebesar 0,37 persen, dengan andil inflasi 0,24 persen. Komoditas yang mendorong inflasi inti meliputi emas perhiasan, sewa rumah, sepeda motor, serta nasi dengan lauk.
Baca juga:BPS Pematangsiantar Lakukan Pendataan Triwulanan Seluruh Perguruan Tinggi
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mencatatkan inflasi cukup tinggi, yakni 2,28 persen, yang terutama dipicu oleh kenaikan harga emas sepanjang Januari 2026.
Sebaran Inflasi dan Deflasi Daerah
BPS mencatat, dari total 38 provinsi di Indonesia, sebanyak 20 provinsi mengalami deflasi, sementara 18 provinsi mengalami inflasi.
Deflasi terdalam terjadi di Sumatera Barat sebesar 1,15 persen, sedangkan inflasi tertinggi tercatat di Maluku Utara sebesar 1,48 persen.
BPS juga menyoroti perkembangan harga di daerah terdampak bencana, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ketiga provinsi tersebut mengalami deflasi yang dipengaruhi oleh penurunan harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Baca juga:Sensus Ekonomi 2026 Menjadi Kunci untuk Membaca Arah Ekonomi Nasional
Inflasi Tahunan Didominasi Perumahan dan Energi
Meski secara bulanan terjadi deflasi, BPS mencatat inflasi tahunan Januari 2026 tetap berada di level 3,55 persen. Penyumbang terbesar inflasi tahunan berasal dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, dengan andil 1,72 persen.
Komoditas utama pendorong inflasi pada kelompok tersebut meliputi tarif listrik, tarif air minum PAM, sewa rumah, dan bahan bakar rumah tangga.
“Khusus tarif listrik, dorongan inflasi terjadi akibat fenomena low base effect, menyusul adanya diskon tarif listrik pada tahun 2025,” pungkas Ateng. (A02)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini