Beirut, Sinata.id — Ketegangan di Timur Tengah kembali naik satu tingkat. Kelompok bersenjata Hezbollah melontarkan peringatan keras bahwa kawasan akan terseret ke perang berskala penuh jika Iran menjadi target serangan militer pihak asing.
Pernyataan itu disampaikan langsung oleh pimpinan kelompok pro-Iran dalam forum terbuka yang disiarkan melalui kanal media internal. Pesannya lugas: serangan terhadap Teheran tidak akan dianggap sebagai konflik terbatas, melainkan pemicu konfrontasi luas lintas negara.
Tokoh militer yang berbicara atas nama faksi sekutu Iran menegaskan bahwa mereka telah menyiapkan skenario respons terburuk.
“Jika Iran diserang, kami tidak akan tinggal diam. Ini bukan ancaman simbolik, melainkan kesiapan menghadapi perang total,” ujarnya, dikutip Selasa (27/1/2026).
Retorika tersebut menandai perubahan nada—dari peringatan diplomatis menjadi ancaman militer terbuka—yang dinilai banyak pengamat sebagai sinyal serius kepada Washington dan sekutu regionalnya.
Ancaman Hezbollah muncul di tengah meningkatnya aktivitas militer Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan Teluk. Pergerakan armada laut, penguatan pangkalan, serta latihan gabungan dipandang sebagai pesan tekanan terhadap Iran di tengah ketegangan panjang soal keamanan regional.
Di sisi lain, Teheran berulang kali menegaskan bahwa setiap serangan terhadap wilayahnya akan dibalas secara menyeluruh. Sikap ini diperkuat oleh dukungan terbuka dari jaringan kelompok bersenjata yang selama ini berada di orbit pengaruh Iran.
Pimpinan Hezbollah di Lebanon menegaskan posisi organisasinya tidak akan berada di luar konflik jika Iran diserang.
“Serangan terhadap Iran adalah serangan terhadap poros perlawanan,” ujarnya, seraya menyatakan bahwa bentuk dan waktu respons akan disesuaikan dengan situasi di lapangan.
Pernyataan tersebut memperjelas bahwa konflik Iran dengan musuhnya berpotensi berubah menjadi perang regional, melibatkan berbagai aktor non-negara dan negara sekaligus.
Pernyataan keras ini langsung memicu kekhawatiran global. Analis menilai, jika satu titik konflik meletus, efek domino bisa meluas dari Lebanon, Suriah, Irak, hingga jalur pelayaran strategis di Teluk dan Laut Merah.
Sejumlah negara menyerukan penahanan diri dan dialog, namun hingga kini belum ada tanda konkret penurunan ketegangan. Retorika militer dari berbagai pihak justru semakin intens dalam beberapa pekan terakhir.
Hingga kini, belum ada serangan langsung terhadap Iran. Namun peringatan Hezbollah mempersempit ruang kompromi dan meningkatkan risiko salah perhitungan di lapangan. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini