Info Market CPO
🗓 Update: Jumat, 8 Mei 2026 |15:34 WIB |Volume: 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • LOCO NGABANG • LOCO KEMBAYAN • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15200 (TON) 15131 (AGM) 15275 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15100 (IMT/KJA) 15131 (AGM) 15275 KJA ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.5K · LOCO NGABANG
14782 14675 (MNA) 14500 (PBI) 14925 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.5K · LOCO KEMBAYAN
14772 14525 (MNA) 14400 (PBI) 14825 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14782 14600 (MNA) 14500 (PBI) 14925 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP masih mendominasi pada beberapa titik LOCO
  • Persaingan harga di DMI berlangsung ketat
  • Masih terdapat lokasi tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
News

Mengapa Aroma Wangi Bisa Menghidupkan Kembali Kenangan Lama?

mengapa aroma wangi bisa menghidupkan kembali kenangan lama?
Ilustrasi. (Istimewa)

Jakarta, Sinata.id – Pernahkah Anda tiba-tiba terbawa ke masa kecil hanya karena mencium aroma tertentu? Misalnya, bau serbuk gergaji yang membuat seseorang seolah kembali ke halaman rumah lamanya, atau wangi parfum yang mengingatkan pada sosok terkasih.

Fenomena ini bukanlah kebetulan. Ilmu pengetahuan menjelaskan bahwa wangi-wangian memiliki kekuatan besar untuk membangkitkan memori emosional.

Advertisement

Pada 1935, psikolog Donald Laird dari Colgate University mengajukan pertanyaan sederhana: “Apa yang sebenarnya dapat dilakukan hidungmu?”

Dalam penelitiannya, ia menemukan bagaimana wewangian tertentu memicu kilas balik pengalaman pribadi dengan detail yang sangat nyata. Salah satu respondennya bahkan mengaku, bau serbuk gergaji mampu menghidupkan kembali kenangan masa kecil seolah kejadian itu terjadi kembali.

“Ingatan yang dipicu oleh aroma sangat emosional dan mendalam, bukan sekadar bayangan samar,” tulis Laird. Temuan ini kemudian dibuktikan kembali oleh sains modern.

Baca Juga  Wanita Muda Tewas di Kos, Sempat Menenggak Minuman Keras, Selingkuhan Jadi Tersangka Pembunuhan

Menurut laporan Harvard Medicine, jalur saraf penciuman manusia berbeda dengan pancaindra lainnya. Ahli neurobiologi Harvard Medical School, Sandeep Robert Datta, menjelaskan bahwa meski penciuman manusia tidak setajam anjing atau tikus, aroma memiliki keterikatan langsung pada pusat kognitif, emosi, dan memori.

Struktur otak penciuman terletak dekat dengan hippocampus (pusat memori) dan amigdala (pusat emosi), sehingga dapat langsung “terhubung” ke memori emosional tanpa harus melewati thalamus seperti penglihatan atau pendengaran.

“Sejak awal, otak berkembang dari kemampuan penciuman, navigasi, dan memori. Itu sebabnya hubungan antara aroma dan ingatan begitu kuat,” ujar Datta.

Namun, kekuatan aroma tidak selalu bersifat positif. Profesor Kerry Ressler dari Harvard Medical School mengungkapkan bahwa bau tertentu dapat memicu kenangan traumatis. Dalam penelitiannya pada tikus, aroma yang dipasangkan dengan sengatan listrik menimbulkan ketakutan mendalam.

Baca Juga  Pelajar Al Washliyah Soroti Cafe Blue Diamond di DAS Bah Bolon

Menariknya, ketika dilakukan terapi paparan ulang, rasa takut tersebut berkurang, dan otak menunjukkan perubahan: jumlah neuron serta ukuran glomeruli penciuman kembali normal.

Temuan ini memberi harapan besar bagi pengobatan PTSD pada manusia. Misalnya, veteran perang dapat menjalani terapi virtual reality yang dilengkapi aroma untuk menghadapi pemicu traumanya dengan aman.

Selain nostalgia dan trauma, aroma juga berpengaruh terhadap kesehatan mental. Ahli saraf Brown University, Rachel Herz, menyebut bahwa wangi-wangian dapat langsung memicu respons emosional sekaligus memengaruhi kondisi fisik.

Penelitian menunjukkan bau yang membangkitkan kenangan pribadi mampu memperlambat pernapasan, menurunkan stres, dan bahkan mengurangi peradangan. Hal ini pula yang menjelaskan mengapa kehilangan indra penciuman dapat berdampak serius pada kesehatan mental.

Baca Juga  RS Vita Insani Manfaatkan Drainase, Warga Terdampak Minta Solusi Banjir

Tak heran jika terapi berbasis aroma kini semakin populer. Lavender, misalnya, dipercaya mampu menenangkan pikiran, sedangkan wangi kopi sering digunakan untuk membangkitkan semangat.

Indera penciuman kita jauh lebih kuat dari yang kita bayangkan. Satu tarikan napas dapat menghidupkan kembali memori puluhan tahun lalu, lengkap dengan emosi yang menyertainya.

Ke depan, riset lanjutan mengenai hubungan antara aroma, otak, dan emosi diharapkan membuka peluang baru dalam pengobatan, terutama bagi gangguan kecemasan serta trauma. (A46 | ON)

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini