MENU
📍Siantar 📍Simalungun 📍Medan 📍Singkil 📍Taput 📍Sibolga
Viral Tuduhan Penistaan Agama ke Jusuf Kalla, Ini Klarifikasi Resminya
WA FB
Nasional

Viral Tuduhan Penistaan Agama ke Jusuf Kalla, Ini Klarifikasi Resminya

N Editor : Nida | 11 Apr 2026 | 21:00 WIB
Viral Tuduhan Penistaan Agama ke Jusuf Kalla, Ini Klarifikasi Resminya
Jusuf Kalla (istimewa)

 Jakarta, Sinata.id - Sebuah potongan video ceramah Jusuf Kalla viral di media sosial dan memicu polemik publik. Video tersebut menampilkan pernyataan terkait konflik Poso dan Ambon, khususnya penggunaan istilah “mati syahid” oleh pihak-pihak yang bertikai.

Namun, pihak juru bicara menegaskan bahwa narasi yang beredar tidak sesuai dengan konteks asli ceramah. Video Dipotong, Makna Berubah Juru bicara JK, Husain Abdullah, menjelaskan bahwa potongan video tersebut telah diambil di luar konteks sehingga menimbulkan kesalahpahaman.

Ia menyebut, pernyataan tersebut disampaikan dalam ceramah di Universitas Gadjah Mada pada Maret 2026, yang membahas realitas konflik sosial bernuansa agama di masa lalu.

Menurutnya, JK tidak sedang membahas ajaran agama, melainkan menjelaskan fakta yang terjadi saat konflik berlangsung. Penjelasan Soal Istilah “Syahid” Dalam ceramah tersebut, Jusuf Kalla menjelaskan bahwa pada masa konflik Poso dan Ambon, kedua pihak yang bertikai sama-sama mengklaim tindakan mereka sebagai bagian dari “perang suci”.

Hal ini, menurut Husain, merupakan realitas sosiologis yang terjadi saat itu, bukan pandangan pribadi JK.

Ia juga menegaskan bahwa pernyataan tersebut bertujuan untuk meluruskan pemahaman yang keliru di tengah konflik. Dorong Perdamaian Lewat Dialog Lebih lanjut, Husain menyebut bahwa Jusuf Kalla justru berperan penting dalam mendorong perdamaian. Ia aktif memediasi konflik hingga tercapai kesepakatan damai melalui Perundingan Malino.

Kesepakatan tersebut menjadi titik balik dalam meredakan konflik yang telah menelan banyak korban jiwa.

Menurutnya, pesan utama dari ceramah JK adalah mengajak semua pihak untuk meninggalkan kekerasan dan menempuh jalur damai. Imbauan Tidak Mudah Terprovokasi Polemik ini menjadi pengingat bagi masyarakat agar lebih bijak dalam menyikapi informasi di media sosial, terutama yang berpotensi menimbulkan perpecahan.

Pihak JK mengimbau publik untuk melihat informasi secara utuh dan tidak mudah terprovokasi oleh potongan video yang belum tentu mencerminkan konteks sebenarnya.(A07)

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.