Jakarta, Sinata.id – Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berhasil keluar dari tekanan jual investor asing selama sepekan terakhir.
Setelah sebelumnya banyak dilepas oleh investor luar negeri, kini saham emiten tambang tersebut justru diborong asing.
Investor asing mencatatkan transaksi beli bersih (net buy) saham BUMI sebesar Rp455 miliar selama periode 18-22 Mei 2026. Seluruh transaksi pembelian terjadi di pasar reguler Bursa Efek Indonesia (BEI), berdasarkan data Stockbit Sekuritas yang diakses pada Minggu (24/5/2026).
Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan pekan sebelumnya. Pada periode 11-13 Mei 2026, investor asing justru mencatatkan transaksi jual bersih (net sell) saham BUMI sebesar Rp104,8 miliar.
Aksi beli bersih investor asing terhadap saham BUMI menjadi yang terbesar kedua di pasar modal selama sepekan terakhir. Posisi pertama ditempati saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dengan nilai net buy asing mencapai Rp688,4 miliar.
Sementara itu, saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) berada di posisi berikutnya dengan net buy asing sebesar Rp314,6 miliar.
Secara keseluruhan, investor asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp807,6 miliar di seluruh pasar Bursa Efek Indonesia selama sepekan terakhir. Tren tersebut melanjutkan aksi jual pada pekan sebelumnya yang mencapai Rp3,2 triliun.
Analis MNC Sekuritas, Raka Junico, mengatakan Bumi Resources memiliki rekam jejak efisiensi operasional yang cukup baik dalam beberapa tahun terakhir.
Pada kuartal I-2026, BUMI membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$28,1 juta atau naik 35,2 persen dibandingkan periode sebelumnya. Pendapatan perusahaan juga meningkat 19,7 persen menjadi US$417,7 juta.
Raka optimistis BUMI mampu mencapai target keseimbangan EBITDA dari segmen batu bara dan non-batu bara pada 2031. Optimisme tersebut didorong langkah agresif perseroan dalam mentransformasi bisnis menjadi perusahaan tambang multi-komoditas melalui berbagai aksi akuisisi.
BUMI diketahui telah mengakuisisi saham tambang konsentrat tembaga Wolfram serta saham tambang emas Jubilee. Terbaru, perusahaan juga berencana mengakuisisi perusahaan tambang asal Australia, Loyal Metals.
Menurut Raka, ekspansi anorganik yang dilakukan BUMI merupakan strategi jangka panjang yang positif. Diversifikasi bisnis tersebut dinilai mampu mengurangi risiko fluktuasi harga komoditas, khususnya batu bara, sehingga stabilitas dan kualitas laba perusahaan dalam jangka menengah maupun panjang menjadi lebih solid. (A02)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini