MENU
📍Siantar 📍Simalungun 📍Medan 📍Singkil 📍Taput 📍Sibolga
PBB Peringatkan Krisis Iklim Global, Suhu Bumi Capai Rekor Baru
WA FB
Dunia

PBB Peringatkan Krisis Iklim Global, Suhu Bumi Capai Rekor Baru

J Editor : Jansen Siahaan | 23 Mar 2026 | 19:36 WIB
PBB Peringatkan Krisis Iklim Global, Suhu Bumi Capai Rekor Baru
Ilustrasi suhu Bumi. (rottadana)

New York, Sinata.id — Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan bahwa iklim Bumi kini berada dalam kondisi ketidakseimbangan paling parah sepanjang sejarah pencatatan modern.

WMO menyebutkan bahwa Bumi menyerap energi panas jauh lebih besar dibandingkan yang dapat dilepaskan kembali ke luar angkasa. Kondisi ini dipicu oleh peningkatan emisi gas rumah kaca, terutama karbon dioksida (CO₂), yang dihasilkan dari aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil.

Ketidakseimbangan energi ini berdampak langsung pada meningkatnya suhu lautan, mencairnya lapisan es, serta mempercepat perubahan iklim global.

Dalam laporan terbaru, seperti dilansir Senin (23/3/2026), WMO mencatat bahwa sebelas tahun terakhir merupakan periode terpanas sejak pencatatan dimulai pada 1850.

Pada 2025, suhu rata-rata global tercatat sekitar 1,43°C lebih tinggi dibandingkan masa pra-industri. Meski sedikit lebih rendah dari 2024 akibat pengaruh fenomena La Niña, tahun tersebut tetap termasuk salah satu dari tiga tahun terpanas dalam sejarah.

Para ilmuwan menilai tren pemanasan global terus menunjukkan peningkatan signifikan sejak 1970-an dan kini bergerak lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

WMO menekankan bahwa indikator paling komprehensif dalam memahami perubahan iklim adalah ketidakseimbangan energi Bumi. Kondisi ini terjadi ketika energi matahari yang masuk tidak sebanding dengan panas yang keluar.

Sebagian besar energi panas berlebih tersebut lebih dari 90 persen diserap oleh lautan. Dampaknya antara lain meningkatnya suhu air laut, kerusakan ekosistem laut, badai yang semakin intens, serta kenaikan permukaan air laut.

Selain itu, gletser global mengalami penyusutan signifikan, sementara es laut di wilayah kutub berada pada atau mendekati titik terendah sepanjang 2025.

Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, menegaskan bahwa kondisi ini merupakan sinyal bahaya bagi dunia.

“Bumi sedang didorong melampaui batas kemampuannya. Setiap indikator iklim utama menunjukkan tanda bahaya,” ujarnya.

Ia kembali menyerukan kepada negara-negara untuk mempercepat transisi dari energi fosil ke energi terbarukan guna menjamin keamanan iklim dan energi global.

Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, menyatakan bahwa aktivitas manusia telah mengganggu keseimbangan alam secara signifikan dan dampaknya akan berlangsung dalam jangka panjang.Perubahan iklim yang semakin cepat turut memicu peningkatan kejadian cuaca ekstrem, termasuk gelombang panas, badai, dan penyebaran penyakit seperti demam berdarah.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.