MENU
Pandangan Islam terhadap Konflik di Timur Tengah
WA FB
Religi

Pandangan Islam terhadap Konflik di Timur Tengah

G Editor : Gunawan Purba | 10 Apr 2026 | 09:22 WIB
Pandangan Islam terhadap Konflik di Timur Tengah
Doni Arief MA

Oleh Doni Arief MA Dosen STAI Samora

Pada 6 April 2026, konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah memasuki hari ke-38 sejak dimulainya Operasi Epic Fury pada 28 Februari 2026.

Serangan gabungan awal tersebut mencakup ratusan serangan udara dan rudal yang menargetkan fasilitas militer, kepemimpinan, serta infrastruktur strategis salah satu pihak, termasuk pembunuhan pemimpin tertinggi dan sejumlah pejabat senior Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC).

Pihak yang diserang merespons dengan gelombang rudal balistik dan drone yang menyasar target di pihak lain serta pangkalan militer di negara-negara Teluk seperti Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.

Hingga kini, Selat Hormuz yang vital bagi 20 persen pasokan minyak dunia tetap terkunci akibat tindakan tersebut. Hal ini memicu krisis energi global, lonjakan harga bahan bakar, dan gangguan rantai pasok internasional.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membela atau menyalahkan satu pihak pun. Sebaliknya, berusaha menyajikan analisis tajam dan mendalam yang berlandaskan nilai-nilai universal ajaran Islam.

Nilai-nilai tersebut menekankan adl (keadilan), salam (perdamaian), dan penolakan mutlak terhadap zulm (kezaliman). Konflik ini bukan sekadar pertarungan geopolitik semata.

Ia menjadi cermin bagi seluruh umat manusia tentang bagaimana perang modern merenggut nyawa tak bersalah, menghancurkan infrastruktur sipil, dan mengancam stabilitas regional maupun global.

Dengan memaparkan fakta lapangan terkini, dampak kemanusiaan, serta implikasi strategis, tulisan ini mendorong introspeksi kolektif agar tidak menimbulkan perpecahan di kalangan pembaca dari berbagai latar belakang.

Islam mengajarkan bahwa perang hanyalah jalan terakhir (darurat), sementara perdamaian yang berbasis keadilan merupakan kewajiban moral yang mendesak untuk direalisasikan.

Kronologi dan Fakta Lapangan Terkini

Konflik meletus pada 28 Februari 2026 melalui serangan mendadak yang menewaskan lebih dari 2.000 hingga 7.300 warga sipil dan militer di salah satu pihak, termasuk ratusan anak, serta melumpuhkan sebagian besar arsenal rudal dan angkatan laut.

Pihak penyerang melaporkan penghancuran sekitar 330 dari 470 peluncur rudal serta menenggelamkan lebih dari 90 persen kapal angkatan laut lawan.

Di pihak lain, respons berupa ratusan rudal dan drone balistik menyerang pangkalan militer di Teluk serta target sipil dan militer, termasuk di Haifa yang menyebabkan korban jiwa sipil.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.