Info Market CPO
πŸ—“ Update: Rabu, 13 Mei 2026 |18:41 WIB |Volume: 0.5K β€’ 0.5K β€’ 0.2K β€’ 2.6K β€’DMI β€’ DMI β€’ LOCO PARINDU β€’ FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K Β· DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K Β· DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K Β· LOCO PARINDU
14535 14399 (MNA) 14400 (PBI) 14750 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K Β· FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi transaksi DMI Persaingan harga masih cukup kompetitif antar bidder Tender LOCO PARINDU berakhir WD Tender FOB PALOPO belum terdapat bidder
πŸ‘₯Sumber: Internal Market CPO
Model
Ekonomi & Bisnis

Neraca Dagang RI Surplus 64 Bulan Tanpa Henti, Tembus US$ 5,49 Miliar

neraca dagang indonesia agustus 2025 kembali surplus us$ 5,49 miliar. rekor 64 bulan berturut-turut, didorong ekspor nonmigas.
Neraca perdagangan Indonesia Agustus 2025 kembali surplus US$ 5,49 miliar. Rekor 64 bulan berturut-turut, didorong ekspor nonmigas dan pasar utama seperti AS, India, dan Filipina. (Ist)

Sinata.id – Indonesia kembali mencatatkan prestasi di sektor perdagangan internasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa neraca dagang Tanah Air pada Agustus 2025 berhasil mencetak surplus sebesar US$ 5,49 miliar. Angka ini sekaligus memperpanjang tren surplus beruntun selama 64 bulan tanpa henti sejak Mei 2020.

Deputi Bidang Statistik Produksi BPS, M. Habibullah, dalam konferensi pers yang digelar Rabu (1/10/2025), menjelaskan bahwa kinerja ekspor yang lebih tinggi dibanding impor menjadi kunci utama. β€œSurplus Agustus ditopang oleh ekspor nonmigas yang mencapai US$ 7,15 miliar,” ungkapnya.

Advertisement

Ekspor Naik, Impor Turun

Data BPS memperlihatkan nilai ekspor Indonesia pada Agustus 2025 tembus US$ 24,96 miliar, tumbuh 5,78 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara impor justru turun 6,56 persen menjadi US$ 19,47 miliar.

Baca Juga  Tarif Listrik April–Juni 2026 Tetap, Simak Dampak dan Kejutan untuk Masyarakat

Peningkatan ekspor terutama disumbang oleh tiga komoditas andalan, yakni Lemak dan minyak nabati/hewan (HS15) yang melonjak hingga 51 persen, Bahan bakar mineral (HS27), dan Besi serta baja (HS72).

Sebaliknya, sektor migas masih menjadi titik lemah dengan defisit mencapai US$ 1,66 miliar, terutama akibat tingginya impor minyak mentah dan produk turunannya.

Jika ditarik sejak Januari hingga Agustus 2025, Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar US$ 29,14 miliar. Surplus terbesar datang dari sektor nonmigas dengan nilai US$ 41,21 miliar, sedangkan sektor migas masih terbebani defisit hingga US$ 12,07 miliar.

Negara Penyumbang Surplus dan Defisit

Amerika Serikat kembali menjadi pasar paling menguntungkan dengan surplus perdagangan mencapai US$ 12,20 miliar. India dan Filipina turut memberi kontribusi besar, masing-masing dengan nilai US$ 9,43 miliar dan US$ 5,85 miliar.

Baca Juga  May Day di Perdagangan, Bupati Simalungun Tekankan Kolaborasi Pekerja dan Pengusaha

Namun, di sisi lain, Indonesia masih mengalami defisit cukup dalam dengan beberapa negara. Tiongkok menjadi penyumbang defisit terbesar, yakni minus US$ 13,09 miliar, disusul Singapura (minus US$ 3,55 miliar) dan Australia (minus US$ 3,49 miliar).

Menariknya, angka surplus pada Agustus 2025 ini ternyata melampaui ekspektasi sejumlah analis. Konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia sebelumnya memperkirakan surplus hanya sekitar US$ 4,8 miliar. Realisasi yang lebih besar ini semakin memperkuat posisi Indonesia di tengah perlambatan ekonomi global. (A46)

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini