MENU
Menjaga Mulut dan Lidah: Refleksi Iman Kristen tentang Panca Indra dan...
WA FB
Religi

Menjaga Mulut dan Lidah: Refleksi Iman Kristen tentang Panca Indra dan Roh

F Editor : Ferry SP Sinamo | 10 Jan 2026 | 05:02 WIB
Menjaga Mulut dan Lidah: Refleksi Iman Kristen tentang Panca Indra dan Roh
Pdt Mis Ev Daniel Pardede, MH

Oleh: Pdt Mis Ev Daniel Pardede, MH Menjaga Mulut dan Lidah dalam Terang

Firman Tuhan

“Janganlah mulutmu membawa engkau ke dalam dosa, dan janganlah engkau berkata khilaf kepada utusan Tuhan jika engkau melakukannya.”

(Pengkhotbah 5:5)

Dalam kehidupan sehari-hari, panca indra memiliki peran besar dalam membentuk sikap dan perilaku manusia. Salah satu yang paling menentukan adalah mulut dan lidah, yang sering kali menjadi pintu keluar dari isi hati seseorang.

Karena itu, Alkitab memberikan peringatan tegas agar umat percaya berhati-hati dalam menggunakan perkataan.

Mulut dan lidah bukan sekadar alat komunikasi, melainkan sarana yang dapat membawa kebaikan maupun keburukan. Dalam menjalankan tugas, profesi, pergaulan sosial, hingga dalam proses mendidik dan menegur sesama, kata-kata yang tidak terjaga kerap menjadi pemicu pertengkaran, luka batin, bahkan dosa.

Sebaliknya, perkataan yang lahir dari hati yang bersih, tulus, dan benar akan menghasilkan damai sejahtera serta membangun sesama.

Firman Tuhan dengan jelas mengingatkan:

“Apa yang keluar dari mulut dan lidahmu, haruslah kau lakukan dengan setia, sebab dengan sukarela kau nazarkan kepada Tuhan, Allahmu, sesuatu yang kaukatakan dengan mulut dan lidahmu sendiri.”

(Ulangan 23:23)

Alkitab juga mencatat peristiwa serius yang menimpa Ananias dan Safira (Kisah Para Rasul 5:1–11). Keduanya bernazar kepada Tuhan atas hasil penjualan tanah, namun tidak jujur dalam menyampaikan jumlah yang sebenarnya.

Kebohongan yang keluar dari mulut dan lidah mereka bukan hanya ditujukan kepada manusia, tetapi kepada Tuhan sendiri. Akibatnya, keduanya menerima hukuman yang berat sebagai peringatan bagi umat percaya tentang keseriusan berkata tidak benar di hadapan Allah.

Berbeda dengan teladan yang disampaikan oleh Hana, yang menegaskan pentingnya kerendahan hati dan kejujuran dalam bertutur kata:

“Janganlah kamu selalu berkata sombong, janganlah caci maki dan kebohongan keluar dari mulutmu, karena Tuhan adalah Allah yang Maha Tahu dan Ia menguji segala perbuatan orang.”

(1 Samuel 2:3)

Firman ini menegaskan bahwa setiap ucapan manusia tidak pernah tersembunyi dari pengetahuan Tuhan.

Setiap kata yang diucapkan mencerminkan kondisi batin dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.