Batam, Sinata.id – Anggota Komisi VII DPR RI Bane Raja Manalu mengapresiasi kualitas pendidikan dan manajemen Batam Tourism Polytechnic yang dinilainya mampu mencetak lulusan siap kerja, dan sesuai dengan kebutuhan industri pariwisata.
Apresiasi dan enilaian itu disampaikan Bane usai meninjau langsung fasilitas dan sistem pembelajaran di kampus tersebut, Selasa (10/02/2026).
Ia menilai institusi pendidikan tersebut unggul dari sisi sarana prasarana, kurikulum adaptif, hingga kemitraan erat dengan dunia usaha melalui konsep co-creation curriculum.
“Apa yang kami lihat di sini sangat mengesankan. Fasilitasnya memadai, dan kurikulumnya disusun mengikuti kebutuhan industri. Ini praktik baik yang layak menjadi contoh,” ujar Bane di Kota Batam, Kepulauan Riau.
Politisi Fraksi PDI Perjuangan itu menegaskan, tidak ada alasan bagi Kementerian Pariwisata maupun politeknik pariwisata negeri untuk enggan belajar dari lembaga swasta.
Menurutnya, esensi pendirian institusi pendidikan adalah memastikan lulusan tidak sekadar siap kerja, tetapi juga benar-benar terserap di dunia industri.
Ia turut menyoroti capaian Batam Tourism Polytechnic yang mampu menghadirkan zero unemployment bagi para alumninya.
Meski biaya pendidikan relatif tinggi, Bane menilai hal tersebut sebanding dengan hasil yang diperoleh mahasiswa, yakni kepastian kompetensi dan pekerjaan setelah lulus.
Data yang disampaikan menunjukkan sekitar 60 persen lulusan bekerja di dalam negeri, sementara sisanya berkarier di berbagai negara.
Capaian tersebut dinilai lebih baik dibandingkan tingkat penyerapan lulusan politeknik pariwisata di bawah Kementerian Pariwisata yang saat ini masih berada di kisaran maksimal 60 persen.
“Ini contoh yang perlu dipelajari. Tidak perlu gengsi belajar dari swasta. Keberhasilan mereka ditopang jejaring industri yang kuat serta kurikulum yang terus diperbarui sesuai kebutuhan pasar,” tegasnya.
Bane juga mengingatkan pentingnya evaluasi dan pembaruan kurikulum secara berkala. Ia menilai sektor pariwisata berkembang sangat cepat, sehingga lembaga pendidikan harus tanggap terhadap perubahan agar lulusan tetap relevan dan berdaya saing.
"Pariwisata itu dinamis. Jangan sampai industri sudah melangkah jauh, sementara kurikulum masih tertinggal. Penyesuaian berkelanjutan menjadi kunci,” pungkasnya. (A18)
Sumber: Parlementaria
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.