Info Market CPO
🗓 Update: Rabu, 13 Mei 2026 |18:41 WIB |Volume: 0.5K • 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • DMI • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14535 14399 (MNA) 14400 (PBI) 14750 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi transaksi DMI Persaingan harga masih cukup kompetitif antar bidder Tender LOCO PARINDU berakhir WD Tender FOB PALOPO belum terdapat bidder
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Nasional

Korban Keracunan MBG Tembus 5.000 Orang!

korban keracunan mbg tembus lebih dari 5.000 siswa di berbagai daerah indonesia. jawa barat sebagai episentrum kasus.
Korban Keracunan MBG tembus lebih dari 5.000 siswa di berbagai daerah Indonesia. Jawa Barat sebagai episentrum kasus. (Kompascom)

Korban Keracunan MBG tembus lebih dari 5.000 siswa di berbagai daerah Indonesia. Data KSP, Kemenkes, dan BPOM menyoroti Jawa Barat sebagai episentrum kasus, memicu desakan evaluasi total program Makan Bergizi Gratis.

Sinata.id – Gelombang keracunan massal akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menimbulkan kekhawatiran publik. Data yang dipaparkan Kepala Staf Presiden (KSP) M Qodari mengungkap bahwa jumlah korban telah menembus angka lebih dari 5.000 siswa di berbagai daerah Indonesia.

Advertisement

Dalam pernyataannya di Istana Negara, Jakarta, Senin (22/9/2025), Qodari menyebut Jawa Barat sebagai wilayah dengan insiden terbesar. Ia menegaskan, tiga lembaga berbeda, yakni BGN, Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), menyajikan angka yang nyaris serupa.

Baca Juga  Bukan Sekadar Makanan Basi, Uji Lab Temukan Bakteri Berbahaya di Menu MBG Dairi

“BGN mencatat 46 kasus dengan 5.080 penderita per 17 September. Kemenkes menemukan 60 kasus dengan 5.207 korban (16 September), sedangkan BPOM melaporkan 55 kasus dengan 5.320 korban per 10 September 2025,” jelas Qodari.

Ia menambahkan, data tambahan dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia bahkan menunjukkan 5.360 siswa mengalami gejala serupa. “Angka-angka ini memperlihatkan konsistensi meski terdapat selisih kecil secara statistik,” imbuhnya.

Jawa Barat Jadi Episentrum Kasus

Berdasarkan asesmen BPOM, puncak kasus keracunan MBG terjadi pada Agustus 2025, dengan distribusi korban terbanyak di Jawa Barat.

Faktor penyebabnya meliputi higienitas makanan yang buruk, pengolahan pangan yang tidak sesuai prosedur, kontaminasi silang oleh petugas, serta kemungkinan alergi pada sebagian penerima manfaat.

Baca Juga  Pabrik Minyak Goreng di Medan Terbakar, Pemadaman Masih Berlangsung

Qodari menegaskan bahwa pemerintah tidak menutup mata.

“Ini bukti pemerintah tidak tone deaf. Menteri Sekretaris Negara sudah meminta maaf pekan lalu dan berjanji akan mengevaluasi program ini,” tegasnya.

Standar Keamanan Pangan Jadi Pekerjaan Rumah Besar

Kemenkes pada September 2025 mencatat, dari 1.379 Satuan Penyelenggara Program Gizi (SPPG), hanya 413 SPPG yang memiliki SOP Keamanan Pangan, dan 312 SPPG yang benar-benar menerapkannya.

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran serius terhadap pengawasan pelaksanaan MBG.

Qodari menekankan pentingnya standar resmi. “Untuk mengatasi masalah ini, SOP Keamanan Pangan harus ada dan dijalankan. Selain itu, SPPG wajib memiliki Sertifikasi Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS) dari Kemenkes sebagai jaminan mutu dan keamanan pangan,” ujarnya.

Baca Juga  Kartu Pers Wartawan CNN Dicabut Istana

Namun, data Kemenkes terbaru menunjukkan, dari 8.583 SPPG, hanya 34 unit yang sudah mengantongi SLHS. Sisanya, 8.549 SPPG, belum memenuhi persyaratan tersebut.

Menurut Qodari, regulasi sebenarnya telah diterbitkan oleh BGN dengan dukungan BPOM. Kendati demikian, lemahnya aktivasi dan pengawasan menjadi masalah utama. (A46)

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini