MENU
📍Siantar 📍Simalungun 📍Medan 📍Singkil 📍Taput 📍Sibolga
IHSG Diprediksi Bergerak Terbatas Pekan Ini
WA FB
News

IHSG Diprediksi Bergerak Terbatas Pekan Ini

R Editor : Redaksi Sinata | 13 Oct 2025 | 15:27 WIB
IHSG Diprediksi Bergerak Terbatas Pekan Ini
Ilustrasi. (Ist)

IHSG Masih Bertahan di Zona Positif

Meski angin global bertiup kencang, IHSG masih sempat menutup perdagangan pekan lalu dengan kenaikan tipis 0,08%, ditopang aksi beli bersih asing senilai Rp1,18 triliun. Saham-saham seperti CDIA, WIFI, ANTM, BRPT, dan CUAN menjadi incaran utama investor asing.

Namun, BNI Sekuritas mengingatkan bahwa penguatan ini bisa saja bersifat sementara. Secara teknikal, potensi koreksi masih terbuka lebar dengan support di 8.000–8.150 dan resistance di 8.270–8.300.

“Pelemahan bursa global menjadi faktor penentu arah IHSG dalam waktu dekat,” tulis tim riset BNI Sekuritas.

Ketegangan politik dan ekonomi kini semakin menebal. Dalam unggahan di platform Truth Social, Presiden Trump menegaskan bahwa dirinya tidak berencana bertemu Presiden Xi Jinping dalam waktu dekat. Ia juga menyebut masih banyak langkah balasan yang sedang disiapkan terhadap Beijing.

Pernyataan keras itu langsung memperdalam kekhawatiran pasar. Investor kini menahan diri, menunggu arah kebijakan selanjutnya dari kedua negara adidaya tersebut.

Selain itu, ancaman penutupan sebagian layanan pemerintahan AS (government shutdown) yang telah memasuki pekan ketiga turut menambah ketidakpastian. Sementara dari Asia, pasar masih menanti data perdagangan, inflasi, dan aktivitas perbankan terbaru dari Tiongkok yang akan jadi barometer kesehatan ekonomi regional.

Di tengah guncangan global, pasar Indonesia menaruh harapan pada rilis data Foreign Direct Investment (FDI) kuartal III-2025 pada 15 Oktober. Data ini diharapkan memberi sinyal positif terkait arus modal asing yang dapat menahan gejolak eksternal.

Secara teknikal, Phintraco menilai IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan terbatas, terutama jika investor asing terus masuk. Namun, risiko pelemahan tetap membayangi, terutama bila perang dagang AS–Tiongkok semakin meningkat dan memicu arus keluar dana asing dari negara berkembang. [zainal/a46]

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.