Jakarta, Sinata.id – Ibrahim Arief alias Ibam adalah eks konsultan teknologi Kemendikbudristek di era Menteri Nadiem Makarim.
Kini dia diperhadapkan dengan kasus dugaan korupsi pengadaan laptop berbasis chromebook.
Dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta pada Kamis (16/4/2026), Jaksa Penuntut Umum Roy Riady menuntut Ibam pidana penjara 15 tahun dengan denda Rp 1 miliar subsider 190 hari penjara.
Lalu siapa sebetulnya Ibam? Dia dikenal jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB).
Dia pernah terpilih sebagai 40 Under 40 Fortune Indonesia.
Tidak mudah masuk dalam daftar 40 Under Fortune Indonesia. Proses seleksi dilakukan secara ketat. Tim yang bekerja meneliti rekam jejak para kandidat.
Prestasi signifikan serta dampak positif yang mereka berikan kepada masyarakat dan lingkungan.
Ibam dipetik dari laman Fortune, telah bekerja pada sejumlah perusahaan teknologi Eropa, kala mengejar gelar Master di benua itu dalam program Erasmus Mundus CIMET.
Pulang ke Indonesia pada 2016. Bergabung dengan Bukalapak dan kemudian menduduki posisi VP of Engineering, VP of R&D serta melapor ke CTO dan COO.
Ibam ikut membawa perusahaan all-commerce itu untuk tumbuh pesat dan mengubahnya dari perusahaan rintisan kecil menjadi unicorn teknologi yang beroperasi pada berbagai ranah mulai dari e-commerce hingga fintech.
Di antara yang menjadi jejaknya di sana adalah pendirian divisi Litbang untuk AI yang mendorong transaksi tahunan tambahan senilai ratusan juta dolar AS.
Pada 2019, dia berlabuh di OVO, salah satu perusahaan fintech terbesar di dalam negeri, dengan tanggung jawab yang meliputi rekrutmen dan pengembangan tim.
Dia kemudian berlabuh sebagai CTO di Govtech Edu Indonesia.
Membangun dan mengembangkan sebuah organisasi berisi sekitar 450 orang.
Serta melahirkan berbagai produk teknologi berskala besar untuk pemerintah Indonesia.
Di antara produk-produk itu adalah sebuah superapp yang dapat mempercepat pembelajaran dan pengajaran berkualitas, hingga platform edukasi untuk jutaan siswa.
Dia ungkap cerita saat menimbang pekerjaan di Govtech Edu.
Saat itu, dia sebenarnya sedang didekati oleh Facebook, dan ditawari untuk bekerja di luar Indonesia.
“Rencana awal saya adalah bertolak ke Eropa dan membangun karier saya di Facebook London,” katanya.
“Tetapi, setelah menimbang-nimbang dan melalui proses pengambilan keputusan yang sulit, saya memilih untuk tinggal di Indonesia demi bekerja dengan Govtech Edu.” (A08)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini