“Kami ingin tempat-tempat seperti ini diperkenalkan melalui kacamata kehidupan mereka, bukan hanya melalui buku teks,” tegas legislator dari daerah pemilihan Jawa Timur IV tersebut.
Baginya, keberlanjutan adalah kata kunci. Tanpa kesinambungan minat dari generasi ke generasi, cagar budaya berisiko menjadi ruang yang hanya dikunjungi segelintir orang. “Harus ada jembatan. Tanpa itu, sejarah akan terasa jauh dan asing,” ucapnya.
Soal pendanaan, Purnamasidi mengakui bahwa dalam waktu dekat alokasi anggaran negara belum tentu memadai. Ia pun membuka ruang kolaborasi dengan sektor swasta maupun komunitas internasional yang memiliki kepedulian pada pelestarian warisan budaya.
“Dalam jangka pendek, saya tidak terlalu optimis anggaran pemerintah bisa mencukupi. Karena itu, kerja sama dengan berbagai pihak menjadi penting,” tuturnya.
Ia menambahkan, sektor budaya perlu ditempatkan sejajar dengan bidang strategis lain seperti pendidikan dan kesehatan. Dengan demikian, pelestarian sejarah tidak lagi dipandang sebagai pelengkap, melainkan kebutuhan yang wajib dijaga keberlangsungannya. (A18)
Sumber: Parlementaria
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.