MENU
📍Siantar 📍Simalungun 📍Medan 📍Singkil 📍Taput 📍Sibolga
Fosil 250 Juta Tahun Ungkap Nenek Moyang Mamalia Bertelur, Ini Temuan...
WA FB
Sains & Teknologi

Fosil 250 Juta Tahun Ungkap Nenek Moyang Mamalia Bertelur, Ini Temuan Ilmiahnya

J Editor : Jansen Siahaan | 18 Apr 2026 | 07:00 WIB
Fosil 250 Juta Tahun Ungkap Nenek Moyang Mamalia Bertelur, Ini Temuan Ilmiahnya
Penemuan fosil telur Lystrosaurus.(professorjulienbenoit)

Pematangsiantar, Sinata.id — Sebuah temuan fosil berusia sekitar 250 juta tahun mengungkap fakta penting dalam sejarah evolusi: nenek moyang mamalia ternyata berkembang biak dengan cara bertelur.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah PLOS One mengungkap bahwa fosil yang ditemukan di Afrika Selatan merupakan embrio Lystrosaurus, salah satu nenek moyang mamalia yang dikenal mampu bertahan dari peristiwa Kepunahan massal Permian-Trias sekitar 252 juta tahun lalu.

Teknologi Canggih Ungkap Fakta Embrio

Para peneliti menggunakan teknologi pemindaian canggih berupa tomografi komputer beresolusi tinggi dan sinar-X sinkrotron untuk menganalisis fosil tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa rahang embrio Lystrosaurus belum sepenuhnya menyatu.

Menurut Julien Benoit, profesor di Evolutionary Studies Institute, Universitas Witwatersrand, kondisi tersebut hanya ditemukan pada embrio burung dan kura-kura modern.

“Ciri ini membuktikan bahwa embrio Lystrosaurus berada di dalam telur saat mati,” ujarnya.

Ia menambahkan, temuan ini menjadi bukti pertama yang meyakinkan bahwa nenek moyang mamalia seperti Lystrosaurus bertelur.

Telur Bercangkang Lunak dan Strategi Bertahan Hidup

Penelitian juga menyebutkan bahwa telur Lystrosaurus kemungkinan memiliki cangkang lunak menyerupai kulit. Hal ini menjelaskan mengapa fosil telur jenis ini sangat jarang ditemukan dibandingkan telur dinosaurus bercangkang keras.

Temuan ini turut memberikan penjelasan mengapa Lystrosaurus mampu bertahan dari kepunahan massal. Hewan ini hidup di lingkungan kering menyerupai gurun dan memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi.

Telur berukuran relatif besar memungkinkan embrio berkembang lebih baik sebelum menetas. Selain itu, cangkang yang tebal membantu mengurangi kehilangan air, sehingga meningkatkan peluang bertahan hidup di kondisi ekstrem.

Implikasi pada Evolusi Mamalia

Penelitian ini juga membuka wawasan baru mengenai asal-usul laktasi pada mamalia. Para ilmuwan memperkirakan kemampuan menghasilkan susu berkembang setelah periode Trias, sekitar 252 hingga 201 juta tahun lalu.

Awalnya, fungsi cairan tersebut diduga bukan untuk menyusui, melainkan untuk menjaga kelembapan dan melindungi telur.

Steve Brusatte, profesor paleontologi dari Universitas Edinburgh, menilai fosil embrio ini sebagai temuan yang sangat penting.

“Ini adalah bukti kuat bahwa nenek moyang mamalia awal masih bereproduksi seperti reptil, yaitu bertelur, sebelum akhirnya berevolusi menjadi melahirkan dan menyusui,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.