Jakarta, Sinata.id - Kencing batu dan batu ginjal kerap dianggap sebagai penyakit yang sama karena sama-sama melibatkan pembentukan “batu” dari kristal mineral dalam urine. Padahal, keduanya berbeda dari sisi lokasi terbentuknya batu, gejala yang muncul, hingga faktor risiko dan penanganannya.
Informasi medis menyebutkan, kencing batu umumnya terjadi di saluran kemih bagian bawah, seperti kandung kemih atau uretra. Sementara batu ginjal terbentuk di organ ginjal akibat pengendapan mineral dan garam yang mengkristal. Perbedaan lokasi ini memengaruhi keluhan yang dirasakan pasien serta pendekatan terapinya.
Perbedaan Lokasi
Kencing batu terjadi ketika urine yang terlalu pekat memicu terbentuknya kristal di kandung kemih. Dalam kondisi tertentu, batu berukuran kecil dapat keluar sendiri melalui urine. Namun, batu yang lebih besar atau jumlahnya banyak sering kali memerlukan tindakan medis.
Sebaliknya, batu ginjal terbentuk di dalam ginjal. Kasus ini lebih sering ditemukan dibandingkan batu di kandung kemih. Batu dapat berpindah ke saluran kemih dan menimbulkan sumbatan yang memicu nyeri hebat.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Pada kencing batu, keluhan sering kali baru terasa saat ukuran batu membesar atau terjadi iritasi. Gejala yang dilaporkan antara lain nyeri di perut bagian bawah, rasa tidak tuntas saat buang air kecil, frekuensi berkemih meningkat dengan volume sedikit, nyeri saat berkemih (disuria), hingga urine bercampur darah (hematuria). Kondisi ini juga dapat disertai infeksi saluran kemih.
Batu ginjal umumnya menimbulkan keluhan lebih cepat, terutama bila batu menyumbat ureter. Pasien dapat mengalami nyeri hebat di punggung bawah yang menjalar ke perut atau selangkangan, mual dan muntah, urine keruh atau berbau tajam, serta demam dan menggigil bila terjadi infeksi.
Penyebab dan Faktor Risiko
Kedua kondisi sama-sama berkaitan dengan kurangnya asupan cairan yang menyebabkan urine menjadi lebih pekat. Namun, terdapat faktor pemicu lain yang berbeda.
Kencing batu lebih sering dikaitkan dengan gangguan pengosongan kandung kemih, seperti pembesaran prostat, penggunaan kateter jangka panjang, terlalu lama berbaring, atau riwayat operasi kandung kemih. Kondisi medis tertentu seperti diabetes, cedera tulang belakang, dan stroke juga dapat meningkatkan risiko.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.