Ciputat, Sinata.id - Pagi Idulfitri di Masjid An-Noor, Ciputat, Tangerang Selatan, dipenuhi lautan jemaah.
Sejak fajar, gema takbir bersahut-sahutan. Jemaah terus berdatangan, memenuhi ruang utama hingga meluber ke halaman masjid.
Momentum hari raya itu tak sekadar menjadi perayaan. Ia berubah menjadi ruang perenungan yang hening dan mendalam.
Usai salat, ribuan jemaah tetap bertahan. Mereka menyimak khotbah yang disampaikan Ahmad Tholabi Kharlie.
Dengan tutur yang tenang dan reflektif, Tholabi mengajak jemaah menyelami makna Idulfitri dari sudut pandang yang lebih dalam. Ia merujuk pada pesan klasik Ali bin Abi Thalib sebagai titik pijak khotbahnya.
“Perhatikanlah diterimanya amal lebih daripada sekadar melakukan amal itu sendiri,” kutipnya. Pesan itu menjadi benang merah seluruh khotbah.
Ia menyoroti kecenderungan umat yang kerap terjebak pada hitungan jumlah ibadah. Menurutnya, banyak orang sibuk mengakumulasi amal, tetapi jarang mempertanyakan apakah amal tersebut benar-benar diterima.
Dari situ, ia mengajak jemaah menggeser orientasi. Ibadah, katanya, tidak cukup diukur dari tampilan lahiriah, melainkan dari kualitas batin yang menyertainya.
Dalam penjelasannya, nilai sebuah amal tidak selalu ditentukan oleh besar atau kecilnya secara kasatmata. Amal sederhana yang dilakukan dengan ikhlas, justru bisa lebih bernilai dibandingkan amal besar yang kehilangan makna.
Keikhlasan, menurutnya, menjadi inti. Ia kemudian menguraikan dua syarat utama agar amal diterima: keikhlasan kepada Allah dan kesesuaian dengan tuntunan Rasulullah. Keduanya, kata dia, merupakan fondasi yang tak terpisahkan.
Suasana masjid pun larut dalam kesunyian. Jemaah menyimak dengan khidmat, seolah diajak bercermin setelah sebulan menjalani Ramadan.
Dalam bagian lain, Tholabi mengingatkan bahaya yang sering luput disadari: kesombongan spiritual. Rasa bangga atas banyaknya ibadah, katanya, justru dapat menggerus nilai ibadah itu sendiri.
Sebaliknya, ia mendorong sikap rendah hati. Setelah beribadah, yang seharusnya tumbuh adalah harap dan doa, bukan kebanggaan.
Di penghujung khotbah, ia menegaskan satu hal mendasar: hanya amal yang diterima yang akan menjadi penolong di akhirat.
Pesan itu menggema kuat di benak jemaah. Idulfitri, pada akhirnya, tidak berhenti sebagai penutup Ramadan. Ia menjadi titik balik, momen untuk menata ulang orientasi ibadah, agar lebih jujur, lebih dalam, dan lebih bermakna. (A18)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.