Jakarta, Sinata.id – Upaya Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai menunjukkan hasil positif.
Bank Indonesia (BI) mencatat volume transaksi Local Currency Transaction (LCT) sepanjang Januari hingga April 2026 mencapai 22,61 miliar dolar AS atau sekitar Rp400,19 triliun dengan asumsi kurs Rp17.700 per dolar AS.
Nilai transaksi menggunakan mata uang lokal tersebut melonjak 309 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 7,33 miliar dolar AS. Kenaikan ini mencerminkan semakin besarnya penggunaan mata uang domestik dalam perdagangan dan transaksi lintas negara.
Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI, Ruth A. Cussoy Intama, mengatakan pertumbuhan transaksi LCT menunjukkan semakin kuatnya upaya Indonesia menekan ketergantungan terhadap dolar AS di tengah ketidakpastian ekonomi global.
“Ini baru Januari sampai April. Mudah-mudahan terus meningkat, baik dari sisi volume maupun jumlah pelaku,” ujar Ruth dalam kegiatan media briefing di Makassar, Jumat (22/5/2026).
China Jadi Mitra Utama
Dalam implementasi LCT, China menjadi mitra terbesar Indonesia dengan kontribusi mencapai 89 persen dari total transaksi. Sementara Jepang dan Malaysia masing-masing menyumbang 6 persen dan 3 persen.
Ruth menjelaskan, tren penggunaan mata uang lokal kini semakin berkembang karena banyak negara mulai menyadari pentingnya efisiensi transaksi bilateral, terutama di tengah meningkatnya tensi perdagangan global.
Menurutnya, sejumlah negara yang sebelumnya masih menunda implementasi kerja sama transaksi mata uang lokal kini mulai mempercepat realisasinya.
“Dengan pertimbangan tertentu, mereka akhirnya menyadari bahwa implementasi kerja sama ini perlu segera dipercepat,” katanya.
Dolar AS Masih Jadi Mata Uang Utama
Meski demikian, Ruth menegaskan penggunaan mata uang lokal bukan berarti meninggalkan dolar AS sepenuhnya. Dolar AS tetap menjadi mata uang utama dalam sistem keuangan global.
Namun, untuk negara-negara dengan hubungan perdagangan langsung yang besar dengan Indonesia, penggunaan mata uang domestik dinilai lebih efisien dibandingkan harus melalui konversi dolar AS terlebih dahulu.
“Untuk negara-negara yang transaksinya besar secara langsung dengan Indonesia, kenapa harus menggunakan dolar AS terlebih dahulu? Karena proses itu membuat transaksi menjadi tidak efisien,” ujarnya.
LCT Terus Diperluas
Sebagai informasi, LCT merupakan mekanisme transaksi bilateral menggunakan mata uang lokal yang dilakukan melalui bank yang ditunjuk atau Appointed Cross Currency Dealer (ACCD) oleh bank sentral masing-masing negara.
Melalui skema ini, eksportir dan importir dapat bertransaksi langsung menggunakan mata uang domestik tanpa harus memakai dolar AS sebagai mata uang perantara.
Saat ini implementasi LCT Indonesia telah berjalan dengan Malaysia, Thailand, Jepang, China, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. BI juga tengah memperluas kerja sama dengan sejumlah negara lain, termasuk India, Singapura, dan Arab Saudi.
Langkah ekspansi ke Arab Saudi dinilai penting untuk mengurangi tekanan terhadap rupiah saat musim haji, ketika permintaan dolar AS biasanya meningkat tajam.
“Momen haji memang masih sangat bergantung pada dolar AS. Karena itu, kami ingin segera memiliki skema LCT dengan Arab Saudi,” kata Ruth.
Rupiah Masih Tertekan
Di sisi lain, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, mengungkapkan nilai tukar rupiah telah melemah lebih dari 5 persen secara year to date sepanjang 2026.
Menurutnya, pelemahan rupiah dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari tekanan global hingga kebutuhan devisa untuk pembayaran dividen, utang luar negeri, dan operasional ibadah haji.
“Karena itu, implementasi LCT perlu terus diperluas agar dapat membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” ujarnya. (A02)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini