Jakarta, Sinata.id – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan di DPR RI.
Ketua Komisi XI DPR, Mukhamad Misbakhun, meminta Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo segera menstabilkan nilai tukar rupiah ke kisaran Rp16.500 per dolar AS sesuai asumsi makro APBN 2026.
Permintaan tersebut disampaikan dalam rapat bersama Bank Indonesia di Kompleks DPR, Senayan, Jakarta, Senin (18/5/2026). Komisi XI DPR memanggil Gubernur BI menyusul melemahnya rupiah yang sempat menembus level Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS.
“Tadi Gubernur Bank Indonesia mengatakan bahwa kesepakatan politiknya di Rp16.500, dan kita minta tidak muluk-muluk, tidak terlalu tinggi permintaannya supaya nilai tukar dibawa kepada angka stabilisasi di Rp16.500,” ujar Misbakhun.
Menurutnya, angka tersebut merupakan hasil kesepakatan politik antara pemerintah dan DPR yang harus dijaga bersama demi menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Misbakhun juga menyoroti fakta bahwa sejak awal Januari 2026, nilai tukar rupiah belum pernah kembali berada di kisaran Rp16.500 per dolar AS. Sementara itu, penguatan rupiah diperkirakan baru terjadi pada Juli hingga Agustus mendatang.
“Sejak 1 Januari 2026, rupiah belum pernah berada pada kisaran level Rp16.500. Nah, inilah yang harus dijadikan perhatian oleh Bank Indonesia bagaimana nanti supaya rata-rata nilai tukar itu bisa sesuai dengan asumsi makro,” katanya.
Ia menegaskan pelemahan rupiah saat ini memberikan tekanan besar terhadap aktivitas impor dan berpotensi memicu kenaikan inflasi. Dampaknya tidak hanya dirasakan pemerintah melalui impor bahan bakar minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG), tetapi juga sektor swasta yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Misbakhun mencontohkan industri plastik yang mulai mencari alternatif bahan baku akibat tingginya tekanan kurs dolar AS terhadap biaya produksi.
“Karena nilai tukar rupiah saat ini memberikan tekanan berat terhadap impor. Ini dikhawatirkan mempengaruhi inflasi kita. Yang merasakan bukan hanya pemerintah yang melakukan impor BBM dan LPG, tetapi juga pihak swasta yang menggantungkan sebagian bahan baku produksinya pada impor,” tutupnya.
Sorotan terhadap Bank Indonesia juga datang dari Anggota Komisi XI DPR Fraksi PAN, Primus Yustisio. Dalam rapat tersebut, Primus bahkan meminta Perry mempertimbangkan untuk mengundurkan diri sebagai Gubernur BI.
“Pak, kalau kita mengambil tindakan gentleman itu bukan penghinaan, Pak. Saya berikan contoh. Mungkin saatnya sekarang Bapak mengundurkan diri. Tidak ada salahnya,” kata Primus.
Diketahui, rupiah sempat menyentuh level terendah di angka Rp17.648 per dolar AS dan pada perdagangan Senin (18/5/2026) kembali berada di posisi Rp17.706 per dolar AS.
Saat ditanya awak media terkait desakan tersebut, Perry memilih singkat menjawab kondisi rupiah akan tetap terkendali.
“Yakin stabil,” ujar Perry sebelum masuk ke kendaraan dinasnya. (A02)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini