Info Market CPO
🗓 Update: Rabu, 13 Mei 2026 |18:41 WIB |Volume: 0.5K • 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • DMI • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14535 14399 (MNA) 14400 (PBI) 14750 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi transaksi DMI Persaingan harga masih cukup kompetitif antar bidder Tender LOCO PARINDU berakhir WD Tender FOB PALOPO belum terdapat bidder
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
News

Kolaborasi Swatch dan Audemars Piguet Tuai Sorotan, Royal Pop Dinilai Berisiko

kolaborasi swatch dan audemars piguet tuai sorotan, royal pop dinilai berisiko
Ilustrasi The Royal Pop pocket watch. (swatch)

Pematangsiantar, Sinata.id – Swatch resmi meluncurkan koleksi Royal Pop pada Sabtu (16/5/2026) melalui kolaborasi mengejutkan bersama Audemars Piguet.

Kolaborasi ini langsung menjadi sorotan dunia horologi karena menghadirkan delapan jam saku berwarna-warni berbahan Bioceramic, bukan jam tangan pergelangan tangan seperti yang sebelumnya diperkirakan para penggemar.

Advertisement

Koleksi bernama Bioceramic Royal Pop tersebut dipasarkan secara global melalui toko Swatch dengan kisaran harga 400 hingga 420 dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp6,5 juta hingga Rp6,8 juta.

Jam Saku Jadi Kejutan Besar

Sebelum peluncuran resmi, banyak kolektor dan pengamat industri memperkirakan kedua merek akan merilis versi khusus Royal Oak dalam format jam tangan pergelangan tangan. Namun, Swatch dan Audemars Piguet justru memilih konsep jam saku yang dianggap tidak lazim di era modern.

Langkah tersebut memunculkan reaksi beragam. Sebagian pihak menilai kolaborasi ini inovatif dan berani, sementara lainnya menganggapnya berisiko terhadap citra eksklusif Audemars Piguet.

Baca Juga  Kapolres Labusel Lantik Wakapolres dan Kapolsek Silangkitang

Dalam materi kampanyenya, Swatch menyebut Royal Pop sebagai “cara baru untuk mengenakan waktu”. CEO Swatch, Ilaria Resta, mengatakan koleksi itu mencerminkan keberanian dan semangat hidup generasi baru.

Meski demikian, sejumlah penggemar jam tangan mewah menilai produk tersebut lebih menyerupai gadget budaya pop dibanding karya haute horlogerie yang identik dengan eksklusivitas dan prestise.

Strategi Menarik Generasi Muda

Kolaborasi ini disebut menjadi bagian dari tren rumah mode dan merek mewah dunia yang mulai membuka diri terhadap budaya populer demi menjangkau audiens muda.

Mantan CEO Audemars Piguet, François-Henry Bennahmias, sebelumnya memang dikenal mendukung pendekatan kolaboratif semacam ini. Ia pernah memuji kesuksesan MoonSwatch, kerja sama Swatch dengan Omega, yang dinilai berhasil mengenalkan dunia jam tangan premium kepada generasi muda.

Baca Juga  Pengambilalihan Lahan Eks PT Torganda Picu Konflik, Warga Langkimat Tuntut Kemitraan PIR yang Tak Diakui PT Agrinas

Menurut Bennahmias, industri jam tangan perlu mengubah cara mempromosikan produknya agar lebih relevan dengan perkembangan budaya modern.

Dinilai Berisiko bagi Citra Audemars Piguet

Meski memberikan keuntungan besar bagi Swatch dari sisi pemasaran dan popularitas, langkah tersebut dianggap lebih kompleks bagi Audemars Piguet.

Sebagai salah satu merek paling eksklusif di dunia haute horlogerie, Audemars Piguet selama ini dikenal menjaga kelangkaan produksinya. Perusahaan asal Le Brassus, Swiss, itu hanya memproduksi sekitar 50 ribu jam tangan per tahun, jauh lebih sedikit dibandingkan Rolex yang mencapai sekitar satu juta unit per tahun.

Eksklusivitas itulah yang selama ini menjadi daya tarik utama merek tersebut.

Sejumlah kolektor bahkan mengkhawatirkan kolaborasi dengan Swatch dapat mengurangi nilai prestise Audemars Piguet, terutama karena konsep Royal Pop dinilai terlalu dekat dengan budaya pasar massal.

Baca Juga  Chelsea Tumbang 1-3 dari Nottingham Forest, Awoniyi Bersinar di Stamford Bridge

Namun, ada pula pandangan berbeda yang menyebut kolaborasi tersebut justru dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal dunia jam tangan mewah sebelum akhirnya menjadi kolektor di masa depan.

Luxury Brand Kini Harus Relevan

Fenomena kolaborasi antara merek mewah dan pasar massal kini semakin sering terjadi di industri fashion maupun horologi.

Banyak pengamat menilai kemewahan saat ini tidak lagi hanya dibangun dari kelangkaan dan eksklusivitas, tetapi juga kemampuan merek untuk tetap relevan dalam budaya populer.

Meski menuai pro dan kontra, Royal Pop berhasil menciptakan perhatian besar di media sosial dan industri jam tangan global. Pertanyaannya kini, apakah langkah berani tersebut akan memperkuat posisi Audemars Piguet di masa depan atau justru mengikis citra eksklusif yang telah dibangun selama puluhan tahun. (A02)

 

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini