Pematangsiantar, Sinata.id – Polemik pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Pematangsiantar yang berujung ricuh mendapat sorotan dari berbagai kalangan pemuda dan aktivis organisasi kemahasiswaan.
Situasi yang memanas di internal KNPI Kota Pematangsiantar diduga dipicu oleh adanya intervensi kekuasaan dalam proses konsolidasi dukungan terhadap salah satu calon ketua organisasi tersebut.
Menanggapi hal itu, mantan Ketua Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Pematangsiantar, Ronald Panjaitan, melontarkan kritik terhadap dugaan keterlibatan Wesly Silalahi dalam dinamika pemilihan Ketua KNPI Kota Pematangsiantar.
Menurut Ronald, kepala daerah seharusnya tidak ikut campur dalam proses organisasi kepemudaan, terlebih jika sampai mengarahkan dukungan kepada salah satu kandidat demi kepentingan politik tertentu.
“KNPI adalah rumah besar pemuda, bukan alat politik kekuasaan. Jika kepala daerah ikut campur mendukung salah satu calon, maka independensi organisasi ini sedang dipertaruhkan,” ujar Ronald, Minggu (10/5/2026).
Ia menilai kericuhan dalam Musda KNPI tidak terlepas dari adanya tarik-menarik kepentingan politik di belakang proses pemilihan.
“Kami menduga ada pihak-pihak yang menjadi dalang di balik ricuhnya Musda KNPI. Situasi ini tidak terjadi begitu saja. Ada kepentingan yang dimainkan untuk mengendalikan KNPI agar menjadi alat legitimasi kekuasaan,” katanya.
Ronald juga mengingatkan bahwa apabila dugaan keterlibatan kepala daerah tersebut benar, maka hal itu dapat mencederai ruang demokrasi organisasi kepemudaan.
“Wali Kota Wesly harus diingatkan agar tidak menggunakan pengaruh kekuasaan untuk mengintervensi organisasi pemuda. Pemuda tidak boleh dijadikan alat pengamanan kepentingan politik praktis,” tegasnya.
Ia turut mengajak seluruh elemen pemuda di Kota Pematangsiantar untuk menjaga marwah KNPI sebagai organisasi yang independen, kritis, dan berpihak pada kepentingan masyarakat.
“Pemuda harus tetap menjadi kekuatan moral dan kontrol sosial. Jangan sampai KNPI kehilangan legitimasi karena terlalu dekat dengan kekuasaan,” ucap Ronald. (SN14)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini