Info Market CPO
🗓 Update: Rabu, 20 Mei 2026 |18:50 WIB |Volume: 0.5K • 2.6K • 0.5K • 0.5K • 0.2K DMI • FOB PALOPO • DMI • DMI • LOCO PARINDU
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
- 14500 (IMT) 12100 (IBP) 15500 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
N4 N4 (N4)
Vol: 0.5K · DMI
- 14500 (IMT) 12100 (IBP) 15500 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
- 14500 (IMT) 12100 (IBP) 15500 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
- 11010 (MNA) - 15150 WD
Catatan Pasar
  • Tender PTPN didominasi status WD. Tender DMI mencatat CTR di level 15.500 dengan bidder IMT, IBP, dan PAA. Tender FOB PALOPO belum terdapat bidder. Tender LOCO PARINDU mencatat penawaran MNA di level 11.010 dengan CTR 15.150.
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
News

Waspada! Stres dan Gangguan Mental Picu Risiko Serangan Jantung

waspada! stres dan gangguan mental picu risiko serangan jantung
Ilustrasi penyakit jantung. (royalprogress)

Pematangsiantar, Sinata.id – Kesehatan mental memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan jantung.

Stres, kecemasan, hingga gangguan tidur diketahui dapat meningkatkan risiko serangan jantung, terutama jika berlangsung dalam jangka panjang.

Advertisement

Hal tersebut disampaikan dalam program Dialog Interaktif Malang Siang Ini yang disiarkan oleh RRI Malang pada Jumat (24/4/2026). Tema yang diangkat adalah “Cegah Serangan Jantung dengan Jiwa yang Sehat”.

Narasumber dari Yayasan Jantung Indonesia Cabang Malang Raya, Mohammad Irfan, S.St., Ners, menjelaskan bahwa kondisi stres dapat memicu peningkatan hormon epinefrin dan norepinefrin dalam tubuh. Hormon tersebut dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah (vasokonstriksi), sehingga aliran darah ke jantung menjadi terganggu.

“Jika berlangsung lama, kondisi ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner akibat suplai darah yang tidak optimal,” ujar Irfan, yang juga merupakan perawat jantung di RSSA Malang.

Baca Juga  Warga Bangun Jembatan Roboh Hubungkan Dua Desa di Simalungun

Sementara itu, dokter dari Universitas Brawijaya, dr. Afdhalia Khairunnisa Syammarhan, PPDS Kardiovaskular, menambahkan bahwa gangguan mental seperti depresi, kecemasan, hingga post-traumatic stress disorder (PTSD) juga berkontribusi terhadap meningkatnya risiko penyakit jantung.

Ia menjelaskan bahwa kondisi emosional yang tidak terkendali dapat mengaktifkan sistem saraf simpatis secara terus-menerus. Akibatnya, tubuh berada dalam kondisi “siaga” meskipun tidak ada ancaman nyata.

“Hal ini menyebabkan hormon stres terus meningkat, yang dalam jangka panjang dapat memicu pengentalan darah serta pembentukan plak pada pembuluh darah jantung,” jelasnya.

Selain itu, masyarakat juga perlu mewaspadai gejala awal gangguan jantung, seperti jantung berdebar tanpa sebab, nyeri dada terutama di sisi kiri yang menjalar ke lengan atau rahang, serta disertai keringat dingin.

Baca Juga  Kajari Baru Erwin Purba Wujudkan Penegakan Hukum Bermartabat

Masyarakat diimbau untuk tidak hanya menjaga pola makan dan aktivitas fisik, tetapi juga mengelola stres dengan baik. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pola pikir positif, aktivitas relaksasi, serta pemeriksaan kesehatan secara rutin.

Langkah pencegahan juga dapat diperkuat melalui kegiatan komunitas, seperti klub jantung sehat yang menyediakan edukasi, olahraga bersama, serta pemeriksaan kesehatan berkala.

Dengan menjaga keseimbangan antara kesehatan fisik dan mental, risiko serangan jantung diharapkan dapat ditekan sejak dini. (A02)

 

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini