Pematangsiantar, Sinata.id – Lonjakan kasus HIV di Kota Pematangsiantar dalam tiga tahun terakhir menunjukkan tren peningkatan yang konsisten.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran serius terhadap upaya pencegahan dan penanggulangan yang dinilai belum optimal.
Berdasarkan data terbaru, jumlah kasus HIV pada 2023 tercatat sebanyak 132 kasus, meningkat menjadi 138 kasus pada 2024, dan kembali naik menjadi 143 kasus pada 2025. Tren kenaikan ini terjadi secara berkelanjutan setiap tahun.
Kepala Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Pematangsiantar, Dedi Purwanto, menyebutkan bahwa tahun 2025 menjadi angka tertinggi temuan kasus HIV.
“Kasus tertinggi memang terjadi pada tahun 2025 dengan 143 orang dinyatakan positif HIV,” ujarnya, Kamis (2/4/2026).
Didominasi Usia Produktif
Sebagian besar penderita HIV berasal dari kelompok usia produktif. Sebanyak 92 orang berada pada rentang usia 25–49 tahun, diikuti usia 20–24 tahun sebanyak 25 orang, usia di atas 50 tahun sebanyak 20 orang, usia 15–19 tahun sebanyak 5 orang, serta 1 kasus pada anak.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penyebaran HIV telah menjangkau kelompok usia yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat.
Populasi Umum Mendominasi
Data faktor risiko tahun 2025 menunjukkan bahwa populasi umum menjadi penyumbang kasus tertinggi dengan 65 orang. Disusul kelompok lelaki seks dengan lelaki (LSL) sebanyak 41 kasus, pasien Tuberkulosis sebanyak 16 kasus, ibu hamil 4 kasus, pelanggan pekerja seks 4 kasus, waria 3 kasus, pasangan ODHIV 3 kasus, pasangan berisiko tinggi 3 kasus, wanita pekerja seks 2 kasus, serta masing-masing 1 kasus pada penderita hepatitis dan infeksi menular seksual.
Dominasi populasi umum ini menunjukkan bahwa penyebaran HIV tidak lagi terbatas pada kelompok tertentu, tetapi telah meluas ke masyarakat secara umum.
Perlu Penguatan Upaya Pencegahan
Peningkatan kasus selama tiga tahun berturut-turut menjadi indikator bahwa upaya pencegahan dan penanganan HIV perlu diperkuat. Sejumlah langkah dinilai perlu ditingkatkan, seperti edukasi kesehatan yang lebih masif, pemeriksaan atau skrining yang merata, serta pendekatan yang lebih efektif kepada kelompok berisiko.
Selain itu, diperlukan kolaborasi antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat untuk menekan laju penularan HIV di Pematangsiantar.
Jika tidak ditangani secara komprehensif, peningkatan kasus HIV berpotensi menjadi tantangan serius bagi kesehatan masyarakat, khususnya bagi generasi usia produktif di kota tersebut. (SN10)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini