Pematangsiantar, Sinata.id – Penyakit saraf yang selama ini identik dengan usia lanjut kini semakin sering ditemukan pada kelompok anak muda.
Sejumlah rumah sakit melaporkan peningkatan pasien berusia 20 hingga 30 tahun yang menjalani perawatan akibat gangguan neurologis, mulai dari stroke hingga penurunan fungsi otak.
Dokter saraf menilai perubahan pola tersebut tidak terlepas dari gaya hidup modern yang dijalani generasi produktif.
Ahli neurologi RS CK Birla CMRI Kolkata, Dr Deep Das, menyebut kebiasaan kerja berlebihan, stres berkepanjangan, kurang tidur, serta minimnya aktivitas fisik menjadi pemicu utama percepatan penuaan otak.
“Kebiasaan ini perlahan merusak pembuluh darah dan jaringan saraf. Dampaknya sering kali tidak terasa sampai muncul kondisi serius,” ujar Dr Das, disadur dari India Today.
Ia menjelaskan, penyakit yang dahulu dominan menyerang usia di atas 60 tahun kini mulai muncul pada pasien yang masih aktif bekerja.
Kondisi seperti stroke, gangguan kognitif dini, kerusakan saraf, migrain berat, hingga gangguan gerak tercatat semakin sering terjadi pada usia muda. Dalam banyak kasus, proses kerusakan telah berlangsung lama sebelum akhirnya terdeteksi.
Stres kronis dan kurang tidur disebut sebagai faktor terbesar. Tekanan kerja tinggi dan paparan digital tanpa jeda membuat otak kehilangan waktu pemulihan.
Selain itu, gaya hidup kurang gerak menghambat aliran darah ke otak, sementara pola makan tinggi gula, garam, dan lemak memicu peradangan yang merusak fungsi saraf.
Masalah metabolik seperti hipertensi dan diabetes juga kini muncul lebih dini. Jika tidak terkontrol, kedua kondisi tersebut dapat merusak pembuluh darah otak dan meningkatkan risiko stroke pada usia muda.
Ironisnya, banyak penderita tidak menyadari penyakitnya hingga mengalami kondisi gawat darurat.
Faktor lingkungan turut memperburuk keadaan. Paparan polusi udara dalam jangka panjang dinilai memengaruhi pasokan oksigen ke otak, sedangkan penggunaan gawai berlebihan berdampak pada kualitas tidur, kelelahan mental, dan menurunnya konsentrasi.
Menurut Dr Das, tren meningkatnya penyakit saraf di usia produktif menjadi peringatan serius. Ia menekankan pentingnya skrining kesehatan sejak dini, termasuk pemeriksaan tekanan darah dan kadar gula darah secara rutin.
Perubahan gaya hidup dinilai menjadi kunci pencegahan, mulai dari olahraga teratur, pola makan seimbang, manajemen stres, hingga tidur yang cukup.
Dokter mengimbau masyarakat segera mencari bantuan medis apabila mengalami gejala seperti sakit kepala berkepanjangan, gangguan ingatan, mati rasa, atau kelemahan mendadak.
“Perlindungan kesehatan otak harus dimulai sejak muda, sebelum kerusakan berkembang menjadi kondisi yang mengancam,” pungkasnya. (*)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini