Sinata.id - Selasa, 11 November 2025, dunia kembali merayakan tanggal unik yang dikenal dengan sebutan Singles’ Day atau Hari Jomblo Sedunia. Dari simbol kesendirian, perayaan ini kini menjelma jadi festival e-commerce terbesar di planet ini.
Awalnya sederhana, hanya ide iseng dari sekelompok mahasiswa Universitas Nanjing di Tiongkok pada awal 1990-an.
Mereka yang kala itu belum punya pasangan memilih merayakan tanggal 11/11 sebagai bentuk kebanggaan menjadi diri sendiri.
Empat angka satu, yakni 11.11, dianggap mewakili orang-orang yang sendiri, simbol kebebasan sekaligus kemandirian.
Namun siapa sangka, dua dekade kemudian, makna “hari para jomblo” justru bertransformasi secara dramatis.
Sejak 2009, CEO Alibaba Daniel Zhang mengubah momen 11.11 menjadi ajang shopping frenzy selama 24 jam penuh.
Dari sekadar perayaan kesendirian, berubah menjadi mesin ekonomi raksasa dengan transaksi yang menembus triliunan rupiah setiap tahunnya.
Hanya dalam satu dekade, 11 November bukan lagi tentang “sendiri”.
Di seluruh Tiongkok, bahkan dunia, jutaan orang berduyun-duyun ke dunia maya berburu diskon kilat.
Tahun 2024, penjualan Singles’ Day di Alibaba bahkan melampaui gabungan transaksi Black Friday dan Cyber Monday di Amerika Serikat.
Fenomena ini menciptakan ironi tersendiri. Hari yang awalnya diciptakan untuk para lajang justru ramai oleh pasangan yang ikut berbelanja bersama.
Bahkan, di beberapa kota besar, 11.11 menjadi tanggal favorit untuk mengajak kencan atau sekadar menikmati momen kebersamaan.
Tak hanya di Tiongkok, euforia 11.11 kini terasa hingga ke Indonesia.
Platform belanja daring seperti Tokopedia, Shopee, dan Lazada tak mau kalah menebar diskon besar-besaran.
Tagar #Promo1111 mendadak ramai di media sosial, dan banyak pengguna memanfaatkan momen ini untuk “menghadiahi diri sendiri” dengan barang impian.
Lebih dari sekadar konsumsi, Hari Jomblo Sedunia kini juga jadi ajang refleksi personal. Banyak orang memaknai 11 November sebagai momen self-love — kesempatan untuk memanjakan diri, menekuni hobi, atau sekadar menikmati waktu tanpa tekanan sosial tentang hubungan asmara.
Sosiolog modern bahkan menilai Singles’ Day sebagai simbol pergeseran budaya global.
Bahwa kebahagiaan tak lagi harus bergantung pada status hubungan, melainkan pada bagaimana seseorang mencintai dan menghargai dirinya sendiri.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.